Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Biologycal Oxygen Demand
(BOD) atau kebutuhan oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme selama
penghancuran bahan organik dalam waktu tertentu pada suhu 20 oC.
Oksidasi biokimiawi ini merupakan proses yang lambat dan secara teoritis
memerlukan reaksi sempurna. Dalam waktu 20 hari, oksidasi mencapai 95-99 %
sempurna dan dalam waktu 5 hari seperti yang umum digunakan untuk mengukur BOD
yang kesempurnaan oksidasinya mencapai 60–
70 %. Suhu 20 oC yang digunakan merupakan nilai rata-rata untuk
daerah perairan arus lambat di daerah iklim sedang dan mudah ditiru dalam
inkubator. Hasil yang berbeda akan diperoleh pada suhu yang berbeda karena
kecepatan reaksi biokimia tergantung dari suhu.
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara
global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. BOD merupakan parameter yang umum dipakai
untuk menentukan tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah. Pemeriksaan
BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk
mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987). Adanya
bahan organik yang cukup tinggi (ditunjukkan dengan nilai BOD dan COD)
menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan bahan organik tersebut secara
biologis menjadi senyawa asam-asam organik.
Peruraian
ini terjadi disepanjang saluran secara aerob dan anaerob. Timbul
gas CH4, NH3 dan H2S yang berbau busuk
(Djarwanti dkk, 2000). Uji BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah
bahan-bahan organik yang sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya
mengukur secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk
mengoksidasi bahan organik tersebut. Semakin banyak
oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan organik
di dalamnya.
Salah
satu variabel penentu yang menentukan kualitas air sehingga kita dapat menggolongkannya ke
dalam empat golongan di atas adalah berdasarkan kandungan bahan organiknya yang
dapat dinyatakan sebagai nilai BOD dan COD. Untuk golongan A, nilai ambang BOD
adalah 20 dan COD adalah 40. Untuk golongan B, nilai ambang BOD adalah 50 dan
COD adalah 100. Untuk golongan C, nilai ambang BOD adalah 150 dan COD adalah 300.
Sedangkan untuk golongan D, nilai ambang BOD adalah 300 dan COD adalah 600
(Perdana, 1992).
Semua
makhluk hidup membutuhkan oksigen tidak terkecuali organisme yang hidup dalam
air. Kehidupan akuatik seperti ikan mendapatkan oksigennya dalam bentuk oksigen
terlarut yang sebagian besar berasal dari atmosfer. Tanpa adanya oksigen
terlarut pada tingkat konsentrasi tertentu banyak jenis organisme akuatik tidak
akan ada dalam air. Banyak ikan akan mati dalam perairan tercemar bukan
diakibatkan oleh toksitasi zat pencemar langsung, tetapi karena kekurangan
oksigen sebagai akibat dari digunakannya gas tersebut pada proses
penguraian/penghancuran zat pencemar (Achmad, 2004). Di dalam lingkungan bahan organik banyak
terdapat dalam bentuk karbohidrat, protein, dan lemak yang membentuk organisme
hidup dan senyawa-senyawa lainnya yang merupakan sumber daya alam yang sangat
penting dan dibutuhkan oleh manusia. Secara normal, bahan organik tersusun oleh
unsur-unsur C, H, O, dan dalam beberapa hal mengandung N, S, P, dan Fe (Achmad,
2004).
Senyawa-senyawa
organik pada umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis atau
kimia menjadi senyawa stabil, antara lain menjadi CO2 dan H2O.
Proses inilah yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan
menurun dan hal ini menyebabkan permasalahan bagi kehidupan akuatik.
Biological
Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan
Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati
secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam
air. Angka BOD adaÂlah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk
menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan
sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.
Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendisain sistem-sisitem
pengolahan biologis bagi air yang tercermar tersebut. Penguraian zat
organis adalah peristiwa alamiah; kalau sesuatu badan air dicemari oleh
zat organik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut, dalam air selama
proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air
dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air. Pemeriksaan BOD
didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis dengan oksigen di dalam air, dan
proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerob. Sebagai hasil oksidasi
akan terbentuk karbon dioksida, air dan Reaksi oksidasi dapat dituliskan
sebagai berikut:
CnHaObNc
+ ( n + a/4 – b/2 – 3c/4 ) O2 ——–à nCO2
+ ( a/2 – 3c/2 ) + H2O + cNH3
Atas
dasar reaksi tersebut, yang memerlukan kira-kira 2 hari dimana 50% reaksi telah
tercapai, 5 hari supaya 75 % dan 20 hari supaya 100% tercapai maka pemeriksaan BOD
dapat dipergunakan untuk menaksir beban pencemaran zat organis. Chemical Oxygen Demand (COD)
atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2)
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat – zat organis yang ada dalam 1 L sampel
air. Angka COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh zat – zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan
melalui proses mokrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut
di dalam air.
Oksigen terlarut
adalah banyaknya oksigen yang terkandung didalam air dan diukur dalam satuan
ppm. Oksigen yang terlarut ini dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor air
baku. Semakin besar oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran
yang relatif kecil. Rendahnya nilai oksigen terlarut berarti beban
pencemaran meningkat sehingga koagulan yang bekerja untuk mengendapkan koloida
harus bereaksi dahulu dengan polutan – polutan dalam air menyebabkan konsusmsi
bertambah.
Metode Analisa BOD
Metode
Pemeriksaan BOD adalah dengan metode Winkler (titrasi
di laboratorium). Prinsipnya dengan menggunakan
titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den NaOH-KI, sehingga akan terjadi
endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 atan
HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali
dan juga akanmembebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnyadititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3)
dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).
Prinsip pemeriksaan
parameter BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen di
dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. Untuk
menguraikan zat organik memerlukan waktu ± 2 hari untuk 50% reaksi, 5 hari
untuk 75% reaksi tercapai dan 20 hari untuk 100% reaksi tercapai. Dengan kata
lain tes BOD berlaku sebagai simulasi proses biologi secara alamiah, mula-mula
diukur DO nol dan setelah mengalami inkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C atau
3 hari pada suhu 25°C–27°C diukur lagi DO air tersebut.
Perbedaan DO
air tersebut yang dianggap sebagai konsumsi oksigen untuk proses biokimia akan
selesai dalam waktu 5 hari dipergunakan dengan anggapan segala proses biokimia
akan selesai dalam waktu 5 hari, walau sesungguhnya belum selesai.
Pengujian BOD menggunakan metode
Winkler-Alkali iodida azida, adalah penetapan BOD yang dilakukan dengan cara
mengukur berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam sampel yang disimpan dalam
botol tertutup rapat, diinkubasi selama 5 hari pada temperatur kamar, dalam
metode Winkler digunakan larutan pengencer MgSO4, FeCl3,
CaCl2 dan buffer fosfat. Kemudian dilanjutkan dengan metode Alkali
iodida azida yaitu dengan cara titrasi, dalam penetapan kadar oksigen terlarut
digunakan pereaksi MnSO4, H2SO4, dan alkali
iodida azida. Sampel dititrasi dengan natrium thiosulfat memakai indikator
amilum (Alaerts dan Santika, 1984).
Waktu yang dibutuhkan untuk
mengoksdasi bahan–bahan organik pada suhu 200C adalah seperti di
dalam tabel berikut ini.
Tabel 10.
Pengaruh waktu terhadap persentase bahan
organik
Metode Analisa BOD
a.
Metoda titrasi dengan cara
Winkler
Prinsip
analisa BOD sama dengan penganalisaan Oksigen Terlarut salah satunya adalah
metode winkler. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi
iodometri. Sampel yang
akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2
dan NaOH-KI, sehingga akan terjadi endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 atau HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali
dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan
oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat
(Na2S203) dan menggunakan indikator larutan
amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat
dirumuskan :
MnCI2 + NaOH
à Mn(OH)2 + 2 NaCI
2 Mn(OH)2 + O2 Ã 2 MnO2 + 2 H2O
MnO2 + 2 KI + 2 H2O Ã Mn(OH)2 + I2
+ 2 KOH
I2 + 2 Na2S2O3 Ã Na2S4O6 + 2 NaI
1.
Metoda Elektrokimia
Metode
Elektrokimia adalah menggunakan peralatan DO Meter. Untuk menganalisa kadar BOD
dengan alat ini adalah dengan menganalisa kadar DO hari 0 dan selanjutnya menganalisa
kadar DO hari ke 5. Selanjtnya kadar BOD dapat dianalisa dengan mengurangkan
selisih keduanya. Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan
oksigen terlarut dengan alat DO meter.
Prinsip
kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda
yang direndam dalam larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini
biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi
dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah
Katoda : O2 + 2 H2O + 4e à 4
HO-
Anoda : Pb + 2 HO-
à PbO + H2O
+ 2e
Kelebihan dan Kelemahan Metode Analisis BOD
a.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Winkler
Kelebihan Metode Winkler
dalam menganalisa BOD melalui penganalisaan oksigen terlarut (DO) terlebih dahulu adalah metoda Winkler lebih analitis, teliti
dan akurat apabila dibandingkan dengan
cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dala titrasi iodometri ialah
penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tio dan penambahan
indikator amilumnya. Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi tio
secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih
akurat. Sedangkan cara DO meter, harus
diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan
salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan
cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan
kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan
pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih
dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat
kisaran. Kelemahan Metode
Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara Winkler penambahan indikator
amylum harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar amilum
tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar bereaksi untuk
kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal
ini disebabkan karena I2 mudah menguap. Dan ada yang harus
diperhatikan dari titrasi iodometri yang biasa dapat menjadi kesalahan pada
titrasi iodometri yaitu penguapan I2, oksidasi udara dan adsorpsi I2
oleh endapan.
1.
Metoda Elektrokimia
Cara penentuan
oksigen terlarut dengan metoda
elektrokimia tidak lebih akurat
dibandingkan metode winkler disebabkan alat ini tidak dapat mendeteksi
keseluruhan nilai oksigen terlarut dengan baik. Namun kelebihan metode ini
adalah alat ini mudah digunakan dan hasil yang diperoleh relatif cepat.
Penanggulangan Kelebihan Kadar BOD
Penanggulangan
kelebihan kadar BOD adalah dengan cara sistem lumpur aktif yang efisien dapat
menghilangkan padatan tersuspensi dan BOD sampai 90%. Ada pula cara yang lain
yaitu dengan Sistem Constructed Wetland
merupakan salah satu cara untuk pengolahan lindi yang memanfaatkan simbiosis
mikroorganisme dalam tanah dan akar tanaman. Sistem ini juga merupakan sistem
pengolahan limbah yang ekonomis. Penelitian ini bertujuan menganalisis
kemampuan sistem sub-surface constructed
wetland untuk menurunkan kandungan COD, BOD dan N total.
Apabila
kandungan zat-zat organik dalam limbah tinggi, maka semakin banyak oksigen yang
dibutuhkan untuk mendegradasi zat-zat organik tersebut, sehingga nilai BOD dan
COD limbah akan tinggi pula. Oleh karena itu untuk menurunkan nilai BOD dan COD
limbah, perlu dilakukan pengurangan zat-zat organik yang terkandung di dalam
limbah sebelum dibuang ke perairan. Pengurangan kadar zat-zat organik yang ada
pada limbah cair sebelum dibuang ke perairan, dapat dilakukan dengan
mengadsorpsi zat-zat tersebut menggunakan adsorben. Salah satu adsorben yang
memiliki kemampuan adsorpsi yang besar adalah zeolit alam. Kemampuan adsorpsi
zeolit alam akan meningkat apabila zeolit terlebih dahulu diaktifkan.
makasih ilmunya
BalasHapusTerimakasih ilmunya :-) sangat membantu ^_^
BalasHapusgan please dibalas ini sumbernya dari mana ilmunya sangat membantu
BalasHapusKorekeiannya yaa Untuk penanggulangan kelebihan kadar nilai DO berbanding terbalik dengan nilai BOD
BalasHapusKorekeiannya yaa Untuk penanggulangan kelebihan kadar nilai DO berbanding terbalik dengan nilai BOD
BalasHapussumberrrrrrr daftar pustakaaaa jgn asal bikin kalo ga ada sumber
BalasHapusMenangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
BalasHapusKelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com
Maaf ini sumbernya dari mana ya?
BalasHapusApabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.
BalasHapusSalam,
Tommy.k
081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com
Management
OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant
Makasih say
BalasHapus